analisis raster untuk melakukan penentuan jalur termurah dengan GIS
Rabu, 24 Agustus 2011
Pola Spektral Vegetasi VS Spektrum Electromagnetik (Translete from Jensen)
- KARAKTERISTIK PANTULAN DARI VEGETASI
Sifat spektral vegetasi pada spektrum tampak:
Ø Pewarnaan mendominasi tanggapan spektral tumbuhan, terutama kandungan klorofil.
Ø Sebagian besar energi yang membentur dedaunan hijau diserap dan sangat sedikit yang dipancar/ teruskan dan atau dipantulkan.
Ø Energi datang tidak akan diserap sebanyak yang dipantulkan.
Ø Tumbuhan yang tertekan dan produksi klorofil berkurang, mempunyai pantulan yang jauh lebih tinggi, terutama pada bagian spectrum merah, sehingga tampak kekuning-kuningan atau " chlorotic".
Ø Carotenes dan xanthophylls mendominasi pewarnaan dedaunan yang kuning pada musim gugur, seiring produksi klorofil berkurang, beberapa jenis pohon menghasilkan anthoxyanin dan memberikan dedaunan warna merah cerah.
Sifat spektral vegetasi pada spektrum inframerah-dekat:
· Struktur internal daun mengendalikan tingkatan pantulan, kira-kira ½ energi datang dipantulkan, hampir ½ dipancarkan, dan sangat sedikit diserap.
· Pantulan meningkat tajam karena daun yang hijau menyerap sangat sedikit energi.
· Warna film inframerah sensitif pada panjang gelombang tampak merah dan hijau.
· Tumbuhan hijau yang sehat ditandai oleh pantulan yang sangat tinggi, pancaran yang sangat tinggi, dan serapan yang sangat rendah.
· 45-50 % pantulan, 45-50 % pancaran, dan kurang dari 5 % serapan.
· Perlapisan beberapa daun dapat menyebabkan pantulan lebih tinggi (hingga mencapai 85 %).
Sifat spektral vegetasi pada spektrum inframerah-tengah:
§ Total kandungan embun pada tumbuhan mengendalikan pantulan inframerah-tengah, sebagian besar energi datang diserap oleh air pada daun, sisanya dipantulkan.
§ Penyerapan air mendominasi tanggapan spektral karena dedaunan hijau mempunyai kandungan kelembaban yang sangat tinggi.
§ Tanggapan spektral tumbuhan hijau didominasi oleh kekuatan saluran serapan-air.
§ Seiring kandungan embun berkurang, pantulan meningkat tajam.
§ Tumbuhan yang sekarat atau mati, dedaunan yang kehilangan banyak klorofil sebanding peningkatan pada pantulannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat spektral obyek pada spektrum panjang gelombang tertentu antara lain :
Pigmentasi (pewarnaan) mendominasi tanggapan spektral tumbuhan pada spectrum tampak, terutama kandungan klorofilnya, sebagian besar energi yang membentur dedaunan hijau diserap dan sangat sedikit yang dipancar/ teruskan dan atau dipantulkan.
Struktur internal (perlapisan) daun mengendalikan tingkatan pantulan pada spectrum inframerah-dekat, kira-kira ½ energi datang dipantulkan, hampir ½ dipancarkan, dan sangat sedikit diserap.
Total kandungan embun (air) pada tumbuhan mengendalikan pantulan inframerah-tengah, sebagian besar energi datang diserap oleh air pada daun, sisanya dipantulkan.
Gelombang elektromagnetik berpengaruh sampai layer ke 6 atau lebih hal ini disebabkan oleh :
Hal yang penting untuk dicatat ialah bahwa perbandingan pantulan pada daun tunggal dibanding pada daun yang berlapis-lapis adalah pada beberapa daun berlapis dapat menyebabkan suatu pantulan lebih tinggi (hingga mencapai 85 persen) pada bagian spectrum inframerah-dekat. Hal ini berkaitan dengan pantulan sempurna: energi memancar melewati terlebih dahulu (lapisan teratas) lapisan dedaunan dan memantulkan dari lapisan kedua secara parsial diteruskan kembali melalui lapisan awal tadi. Sebagai contoh, mempertimbangkan sehelai daun yang memantulkan inframerah-dekat kira-kira 50 persen dan memancarkan kira-kira 50 persen pada energi datang padanya. Sebagaimana ditandai pada gambar 5.7, energi yang dipancarkan jatuh pada lapisan daun kedua yang setengahnya lagi dipancarkan (25 persen asli) dan setengah dipantulkan. Energi yang dipantulkan kemudian dilewatkan kembali hingga lapisan puncak daun yang membiarkan separuh energi itu (atau 12.5 persen asli) untuk dipancarkan dan setengahnya dipantulkan. Hasil akhir total energi yang berasal dari lapisan puncak daun pada kedua-lapisan contohnya adalah 62.5 persen dari energi datang. Pemodelan lapisan beberapa-daun menunjukkan peningkatan penting pada pantulan inframerah-dekat sebagaimana kelebihan perlapisan daun ditambahkan, hingga kira-kira enam lapisan. Dampak dari efek ini pada keseluruhan pantulan spektral adalah bahwa sebaris kacang kedelai atau kapas, sebagai contoh, akan tampak mempunyai suatu pantulan inframerah-dekat yang jauh lebih tinggi pada pusat barisan yang mana efek lapisan beberapa-daun lebih besar dibandingkan pada tepi barisan yang tidak terdapat sebanyak perlapisan daunnya dan energi lebih dipancarkan melewati dedaunan dan diserap oleh lahan di bawahnya.
Geografi sebagai ilmu keruangan
PENJELASAN
Mempelajari bagaimana dan mengapa suatu fenomena alam maupun buatan berbesda dari tempat satu ketempat yang lain di muka bumi dimana peranan ruang dan lokasi sebagai variable fundamental yang mempengaruhi organisasi dan tujuan kehidupn masyarakat.Dalam perkembangannya terjadi interaksi antara manusia dan lingkungan yang salah satunya saling mempengaruhi.
CONTOH/ ILUSTRASI
Suatu kawasan pabrik besar merupakan obyek yang selalu dituju oleh para pekerja/ buruh. Untuk mempermudah akses ke tempat kerjanya para pekerja tadi berupaya mempersempit jarak tempat tinggalnya dengan pabrik itu. Hampir seluruh pekerja memilih jalan demikian itu sehingga kawasan disekitar pabrik akan dipenuhi oleh perumahan/ kost para pekerja. Akibat yang sering terjadi akibat kepadatan itu adalah jeleknya salinitas lingkungan yang berakibat pada ditemukannya sumber penyakit baru. Untuk mengantisipasi kejadian itu kita harus berupaya agas salinitas lingkungan terjaga baik sehingga sumber air tanah tidak tercemar.
Mempelajari bagaimana dan mengapa suatu fenomena alam maupun buatan berbesda dari tempat satu ketempat yang lain di muka bumi dimana peranan ruang dan lokasi sebagai variable fundamental yang mempengaruhi organisasi dan tujuan kehidupn masyarakat.Dalam perkembangannya terjadi interaksi antara manusia dan lingkungan yang salah satunya saling mempengaruhi.
CONTOH/ ILUSTRASI
Suatu kawasan pabrik besar merupakan obyek yang selalu dituju oleh para pekerja/ buruh. Untuk mempermudah akses ke tempat kerjanya para pekerja tadi berupaya mempersempit jarak tempat tinggalnya dengan pabrik itu. Hampir seluruh pekerja memilih jalan demikian itu sehingga kawasan disekitar pabrik akan dipenuhi oleh perumahan/ kost para pekerja. Akibat yang sering terjadi akibat kepadatan itu adalah jeleknya salinitas lingkungan yang berakibat pada ditemukannya sumber penyakit baru. Untuk mengantisipasi kejadian itu kita harus berupaya agas salinitas lingkungan terjaga baik sehingga sumber air tanah tidak tercemar.
About Koreksi Geometrik Image Processing
1) Sistem proyeksi
Proyeksi peta adalah suatu sistem yang dirancang untuk menstransformasikan bentuk permukaan bola bumi pada bidang datar. Berbagai macam proyeksi peta antara lain proyeksi silindrik, proyeksi kerucut dan lain-lain. Pada prinsipnya sistem proyeksi berpedoman pada tiga kaidah yaitu: mempertahankan jarak, sudut, atau luas (equal distance, equal angle, equal area). Salah satu sistem proyeksi yang terkenal adalah Proyeksi Mercator yang dipakai untuk semua peta-peta yang diterbitkan bakosurtanal baik peta-peta RBI, maupun peta-peta tematik di Indonesia,
2) Sistem Koordinat
Sistem koordinat menentukan posisi suatu lokasi/ tempat pada peta atau citra. Sistem koordinat sama dengan grid diwakili oleh sumbu X, Y atau baris/ row dan kolom/ Column. Sistem koordinat mengacu atau terkait pada sistem proyeksinya. Sistem koordinat peta indonesia memakai sistem UTM.
3) Georeferensi dan rektifikasi
Terdapat sedikit perbedaan antara georeferensi dan retifikasi. Georeferensi adalah proses penyamaan sistem koordinat dari peta ke citra, dari citra ke citra maupun dari peta ke peta, sedangkan rektifikasi adalah proses transformasi dari suatu sistem grid ke dalam grid lain menggunakan persamaan polinomial tertentu. Jadi proses proses rektifikasi citra dengan peta akan meliputi proses georeferensi, karena sistem proyeksi berkaitan dengan juga dengan sistem koordinat. Georeferensi dari citra-citra tak terektifikasi kalau citranya sama-sama belum terektifikasi dan sebaliknya bila salah satu citra sudah terektifikasi maka georeferensi image to image sama dengan rektifikasi.
Applied Multitemporal Satelite Image for Mangrove Conservation
INTEGRASI PENGINDERAAN JAUH MULTITEMPORAL DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PENYUSUNAN ZONASI ARAHAN KONSERVASI MANGROVE PESISIR SIDOARJO
Rajif Iryadi, S.Si.1, Prof. Dr. Hartono, DEA., DESS.2
Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh, Fakultas Geografi, UGM, Yogyakarta – 55281
Intisari
Integrasi penginderaan jauh multitemporal dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk kajian tutupan mangrove bertujuan untuk: mengetahui kemampuan citra multitemporal (Landsat MSS, ASTER VNIR, dan ALOS AVNIR-2) untuk klasifikasi penutup/ penggunaan lahan, mengkaji perubahan tutupan lahan mangrove tahun 1972, 2006 dan 2008, menentukan lahan potensial mangrove, dan zonasi arahan konservasi mangrove.
Penelitian dilakukan di pesisir Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Data yang digunakan adalah citra digital penginderaan jauh multitemporal yaitu: Landsat MSS tahun 1972, ASTER tahun 2006 dan ALOS tahun 2008. Metode yang digunakan adalah pengolahan citra digital, pengolahan data dengan SIG dan pengukuran lapangan. Pengolahan citra satelit dilakukan dengan interpretasi visual dan digital untuk menurunkan variabel lahan potensial. Pengolahan data dengan SIG untuk melakukan analisis data atribut dan tumpang susun peta-peta untuk menyusun zonasi arahan konservasi mangrove. Pengukuran lapangan titik sampel dengan metode purposive sampling. Zonasi arahan konservasi mangrove menggunakan pendekatan lahan potensial, kerusakan mangrove serta rencana tata ruang kawasan Kabupaten Sidoarjo.
Hasil penelitian menunjukkan akurasi pemetaan penutup/ penggunaan lahan citra multitemporal (Landsat MSS, ASTER VNIR, dan ALOS AVNIR-2) yaitu: 81,41%, 87,90%, dan 87,84 %. Kondisi tutupan mangrove hasil klasifikasi multispektral tahun 1972 tercatat 24,63% , tahun 2006 menjadi 7,52 % dan tahun 2008 sekitar 6,66%. Berdasarkan variabel lahan potensial mangrove yaitu: bentukalahan, lereng, tekstur tanah, salinitas, fluktuasi pasang surut, penggenangan, dan penutup/ penggunaan lahan, diperoleh informasi luasan lahan potensial mangrove 5.941,3 ha dan lahan sangat potensial 402,33 ha. Hasil arahan konservasi mangrove pesisir Sidoarjo melingkup tujuh kecamatan: Bangil, Buduran, Candi, Jabon, Sedati, Sidoarjo, dan Waru. Zonasi arahan konservasi berupa: zona mangrove tak terganggu (84,45 ha), zona kawasan lindung bermangrove (384,57 ha), zona kawasan lindung peningkatan rehabilitasi mangrove (1.099,41 ha) dan zona pengembangan silvofishery (4.737,78 ha).
Kata kunci: multitemporal, mangrove, zonasi, konservasi, pesisir.
Langganan:
Postingan (Atom)



